Reference

The Read Aloud Handbook – by Jim Trelease http://www.trelease-on-reading.com/
Rangkuman Bab 1 dari The Read Aloud Handbook
Chapter 1: Why Read Aloud?
- Research di Amerika menunjukkan bahwa kebiasaan membaca akan mengalami penurunan yang sangat drastis seiring dengan bertambahnya usia si anak
- Sekolah tidak menciptakan apa yang dinamakan ‘lifetime readers’ – melainkan menciptakan ’schooltime readers’, yaitu mereka yang membaca hanya agar dapat lulus di sekolah.
- Di dalam hasil penelitian ‘Becoming a Nation of Readers’ ditemukan dua hal, yaitu:
- Satu-satunya kegiatan yang paling penting untuk dapat meningkatkan pengetahuan agar seseorang pada akhirnya menjadi gemar membaca adalah melalui kegiatan ‘reading aloud’ yang dilakukan sejak anak-anak.
- Kegiatan ini harus dilakukan baik di rumah, maupun di sekolah (selama si anak menempuh pendidikan sekolah)
- Mengapa ‘Reading aloud’ merupakan suatu kegiatan yang teramat penting:
- Semakin banyak anda membaca, semakin baik anda dalam melakukannya. Semakin baik anda melakukannya, maka Anda akan semakin menyukai kegiatan membaca itu sendiri. Pada akhirnya, Anda akan semakin sering membaca.
- Semakin banyak Anda membaca, semakin banyak Anda tahu; dan semakin banyak Anda tahu, semakin pintar lah Anda.
- Yang penting untuk diingat adalah kita perlu menanamkan minat membaca. Dan ini akan lebih mudah dilakukan saat seseorang masih belia (anak2) dibandingkan saat ia sudah dewasa
Mengapa Reading aloud bisa efektif untuk anak-anak?
- Saat kita melakukan read aloud dengan anak, maka:
- Kita mengkondisikan otak si anak untuk mengasosiasikan membaca sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan
- Menciptakan pengetahuan yang menjadi dasar bagi si anak
- Membangun koleksi kata (vocabulary)
- Memberikan reading role model
- Hal ini didasari oleh dua prinsip yang mendasar:
- Manusia merupakan makhluk yang suka dengan hal2 yang dirasa menyenangkan bagi dirinya (pengalaman membaca itu sendiri, subyek yang dibacakan dan contoh dari orang yang membacakan – seperti di Oprah)
- Membaca merupakan suatu kemampuan yang didapat dengan dipelajari
- Finland merupakan negara yang mempunyai pembaca terbaik. Hal ini terkait dengan:
- frekuensi guru membacakan terhadap muridnya
- frekuensi si anak melakukan sustained silent reading
Background Knowledge
Anak yang mempunyai dasar pengetahuan akan lebih mudah menangkap informasi dari apa yang ia baca.
- Saat anak di usia TK, dengan read aloud memungkinkan si anak untuk mempunyai role model. Role model ini memungkinkan si anak untuk mengimitasi perilaku apa yang ditunjukkan oleh si role model.
- Vocabulary (koleksi kata) yang dimiliki anak akan menentukan seberapa mudah ia memahami apa yang disampaikan di sekolah. Vocabulary dapat dianggap sebagai modal dasar si anak.
Bagaimana mungkin ada anak yang mempunyai vocabulary yang baik dan ada yang tidak?
- Penelitian menunjukkan bahwa status sosial ekonomi suatu keluarga tidak menunjukkan adanya perbedaan dalam hal apa yang dikatakan dan dilakukan orangtua terhadap anaknya.
- Namun, koleksi vocabulary yang dimiliki si anak berbeda. Dimana anak dari keluarga mampu (menengah ke atas) akan mempunyai koleksi vocabulary yang paling banyak.
- Ini karena kemampuan sosial ekonomi orangtua mempengaruhi pengetahuan yang mereka miliki mengenai apa yang perlu untuk dikatakan dan dilakukan terhadap anaknya.
- Saat si orangtua berbicara dengan anak
- Kebiasaan menonton
Mana yang lebih baik, berbicara dengan anak atau membacakan buku kepada si anak?
- Saat kita berbicara dengan anak, maka kita hanya akan menggunakan vocabulary yang umum (common Lexicon)
- Namun saat kita membacakan buku kepada anak, maka kita akan memperkenalkan anak dengan koleksi kata-kata yang jarang ditemui dalam pembicaraan.
- Koleksi kata inilah yang akan membantu si anak untuk mengenal kata-kata yang ada di buku dan media cetak lainnya.
- Penelitian lain menunjukkan bahwa, selain orangtua, buku merupakan medium dimana si anak mengetahui bahwa ia dapat memberikan kontribusi yang signifikan di dalam hidupnya.
- Fiksi merupakan alternatif yang lebih baik dibandingkan dengan non-fiksi
Salah satu contoh yang pernah diterapkan di sekolah adalah:
- 10 menit setiap harinya untuk melakukan read aloud
- 10 menit setiap harinya, sebelum sekolah berakhir, untuk melakukan sustained silent reading
- Hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh orangtua terhadap anaknya adalah membacakan buku untuk anaknya.
- Cara ini adalah cara yang paling baik untuk meningkatkan vocabulary si anak dan meningkatkan pemahamannya dalam membaca.
Chapter 2: When to begin (and end) read-aloud
- Bacakan cerita kepada anak dimulai bersamaan waktunya dengan bercakap/ berbicara dengan anak. Baik dilakukan semenjak anak lahir. Manfaatnya sama seperti kita berbicara kepada mereka
- Bahkan, orang tua membacakan cerita kepada bayi ketika dalam kandungan – membuat bayi mengenal suara orang tua nya dan mulai mengasosiasikan dengan persaan aman dan nyaman dari suara itu.
- Bayangkan, berapa banyak yang bisa didapat manfaatnya dari seorang anak yang gemar melihat, meraba dan berada dilingkungan buku, mengerti kata-kata dan merasa kedekatan dengan yang membacakan.
Pengaruh ‘reading aloud’ kepada anak dengan ‘special need’
Dorothy Butler dalam bukunya Cushla and her book menceritakan orang tua Cushla memulai membacakan cerita ( read aloud ) ketika usia 4 bulan.
- Diusia 9 bulan dia sudah memberi respon kalau melihat buku-buku tertentu dan memberi tanda kepada orang tuanya bahwa itu adalah buku favoritnya. Diusia 5 tahun dia sudah biasa membaca sendiri.
- Apa yang membuat cerita Cushla ini demikian dramatic ? karena Cushla lahir dengan kerusakan chromosome. Sampai usianya yang ke 3 dokter memvonis dia akan tumbuh menjadi anak yang terbelakang. Orang tuanya, ketika melihat respons pertamanya yang baik terhadap buku, menolak, bahkan meningkatkan bacaannya ke 14 buku setiap hari. Diusia yang ke 5, psycholog menemukan bahwa IQ nya diatas rata-rata dan tumbuh menjadi abnak yang mampu berdapatasi dengan lingkungan dengan baik.
- Jim Trelease juga menerima surat dari Marcia Thomas, Memphis, Tennessee – mencerita seorang anak down syndrome bernama Jennifer yang diusia 2 bulan terlihat akan buta, tuli dan terbelakang – dengan dibacakan 10 buku setiap hari – diusianya yang ke 4 IQ nya 111.
Harapan ketika memulai membacakan cerita kepada anak
- Dalam paragraph ini diceritakan kasusnya Erin, yang sungguh beruntung mempunya orang tua Linda Kelly & Jim Hasset ). Linda seorang guru yang ketika Erin lahir bertekad untuk read aloud kepada muridnya. Apa yang dia bacakan didalam kelas dan rekomendasikan kepada orang tua murid dia lakukan kepada Erin. Tentunya tidak semua orang tua mempunyai kesempatan yang sama dengan yang dilalukan Linda. Tetapi kalau orang tua mempunyai setengah dari yang dilakukan Linda, semua anak mempunyai masa depan yang lebih cerah.
- Erin tumbuh menjadi anak yang menggemari buku, kemampuan bercakapnya tumbuh dan mampu berbicara dengan kalimat utuh diusia 24 bulan dan perbendaharaan katanya sudah banyak. Kesemuanya didapat tanpa menggunakan ‘flash card’ atau ‘drill and skill’.
Rekomendasi yang diberikan atas pertanyaan mengenai perlu tidaknya mengajarkan anak membaca sebelum masuk TK
- Kita bisa membuat pudding instant, foto instant, kopi instant tetapi tidak ada instant orang dewasa ( orang tua ). Banyak orang tua yang menginginkan anaknya dewasa sebelum waktunya. Di Finlandia yang mempunyai angka lebih tinggi dari Amerika mengenai score membaca ada peraturan yang melarang ‘pelajaran membaca secara’ formal sebelum untuk anak usia 7 tahun.
- Dr T. Berry Brazelton :
- Perkembangan intelektual anak penting, tapi akan ditemukan konsekuensi negatif kalau didapat dari obsesi dengan mengajarkan anak cepat bisa membaca.
- Contoh :Seorang anak yang diusia sudah bisa membaca di 3,5 – 4 tahun dan membaca kamus. Tapi anak ini mengalami masa sulit. Sukses di kelas 1 tapi kesulitan di kelas 2. Saya melihat bahwa anak tsb dipaksa belajar membaca.
- Brazelton dan David Elkind tidak mengatakan bahwa ‘bisa membaca lebih cepat adalah buruk’, mereka mengingatkan bahwa bisa membaca lebih awal sebagiknya didapat secara alami, karena anak menginginkan. Bukan dengan cara menyediakan waktu khusus, dimana ayah atau ibu duduk dan mengajarkan huruf, suara dan suku kata.
- Cara yang alami adalah duduk dengan orang tuanya dan mendengarkan orang tua membaca, mendengarkan ketika jari orang tua bergerak mengikuti kalimat dan halaman, secara bertahap disuasana yang menyenangkan si anak. Terdapat hubungan antara suara dengan huruf yang sedang dibacakan.Memang ada, seorang anak yang sudah bisa membaca begitu masuk Taman Kanak-kanak tanpa pelajaran membaca yang formal. Anak-anak demikian disebut ‘early fluent readers’
- Research dan beberapa penelitian menunjukkan murid yang memberi respon awal didalam kelas tanpa kesulitan, ada 4 faktor:
1. Anak tsb mempunyai kebiasaan membaca secara teratur
2. Membaca macam-macam materi ( Buku, majalah, Koran, komik)
3. Kertas & pensil berada disekitar anak
4. Orang dirumah anak tsb menstimulasi anak supaya gemar membaca
Bagaimana kemampuan membaca anak bisa menjadi lebih baik jika saya membaca ?
- Kemampuan mendengar menghantarkan kepada kemampuan membaca.
- Arti sebuah kata-kata dari yang sederhana sampai yang kompleks dapat dipelajari melalui mendengar. Kita pelajari dengan 3 cara :
- Lagi, lagi dan lagi ( diulangi berkali-kali )
- Dari super heroes – Ibu, Bapak, kakak ( role model)
- Melalui arti kata – kue, tidur siang, krayon dan kecil
- Ketika orang dewasa membacakan untuk anak, 3 hal penting yang terjadi bersamaan ( simultan )
1.Hubungan menyenangkan terjadi antar anak dengan buku
2.Keduanya, orang tua dan anak belajar sesutu dari buku
3.Orang dewasa menuangkan suara dan suku kata yang disebut kata ketelinga anak
- Melalui telinga anak, kata-kata dikumpulkan dalam tangki yang disebut perbendahaaraan pendengaran. Kita tuangkan cukup banyak kata-kata, tangki penuh yang meluap – menuangkan perbendaharaan bicara, perbendaharaan
- Membaca one-on-one cara terbaik meningkatkan kemampuan anak menyimak. Bertataplah langsung dengan anak, one-on-one ( satu persatu ), ini merupakan cara belajar yang sangat efektif - yang pernah ditemukan. Didukung penelitiannya Jerome Kagan ( Psycholog dari Harvard )
- Ada 3 B – ‘reading kit’ yang yang terjangkau oleh orang tua untuk membantu anak lancar membaca :
1.B yang pertama, Buku
2.B yang kedua, Basket / keranjang ( atau rak majalah/Koran )
3.B yang ketiga, Bed Lamp
- Sebuah kesalahan kalau kita tidak membacakan cerita kepada anak atau terlalu cepat berhenti membacakan cerita kepada anak.
- Di tahun 1983 Commision on Reading menyatakan :
Read aloud harus selalu dilakukan sepanjang anak masih bersekolah. Kita harus meminjam strategy yang dilakukan ole Mc Donald yang tidak pernah berhenti beriklankan walaupun sudah terkenal. Setiap kali kita membacakan cerita kepada anak, kita seolah-olah mengiklankan nikmatnya membaca. Sama seperti Mc.Donald yang tidak pernah memotong budget iklannya bahkan menambah.
- Bertambahnya usia si anak, biasanya berkurang dibacakan ceritanya, baik dirumah maupun disekolah. Survey kepada anak yang sudah lulus selama 30 tahun menunjukkan hal itu.
- Orang tua ( dan kadang-kadang guru ) mengatakan bahwa dia behenti membacakan cerita ketika anak kelas 4. Mengapa saya harus membacakan cerita? Bukankah tujuan saya menyekolahkan mereka adalah supaya dia bisa membaca sendiri ? Ada banyak kesalahan yang diambil dari asumsi ini.
- Ketika seorang anak bisa membaca dikelas 4. Bagaimana dengan kemampuan mendengarnya ( listening skill ) ? Karena kebanyakan kita tidak mengetahui bahwa sesuatu itu lebih baik – sampai akhirnya berhenti melakukan.
- Ambil sebagai contoh ’The Cosby Show ’ yang banyak ditonton oleh remaja selama berminggu-minggu, bahkan oleh anak-anak dari kelas-kelas awal. Bahkan ketika diputar ulang, masih menjadi acara yang paling diminati.
- Menggunakan ’Harris-Jacobson Wide Range Readability Formula’ script film ini ditulis untuk anak-anak kelas 4 ( 3.7)
- Hanya sedikit dari anak kelas 1 yang bisa membaca script show ini. Tapi banyak yang bisa mengerti kalau sudah dibacakan dan dicerita oleh aktornya. Menurut para ahli, kemampuan membaca dan mendengar baru mulai di kelas 8.
- Ada 2 argumen mengenai penting tidaknya membacakan cerita untuk anak di usia belasan ?
- 1.Adakah yang mengetahui apakah anak usia belasan terlalu banyak membaca atau sudah cukup membaca ?
- 2.Apakah orang dewasa di Amerika cukup membaca
- Kalau jawabannya tidak untuk keduanya, kita pakai formula lama.
- Tidak membacakan cerita kepada anak ketika dia sudah tambah besar dan meningkatkan hal-hal yang berhubungan dengan buku- tidaklah sepenuhnya berhasil. Justru menghasilkan golongan yang hanya membaca ketika dibangku sekolah bahkan putus asa menghadapi buku dan akhirnya memutuskan untuk menghindari buku ketika dewasa.
- Tidaklah mengharapkan bahwa sekolah sebagai sebuah liburan – tapi kita harus berupaya bahwa anak mempunyai minat membaca setelah meninggalkan bangku sekolah.
- Kalau kita memakai pemikiran ‘David Ogilvy’ penulis kitab sucinya advertising – dia mengatakan kepada copy writer baru yang membuat iklan Rolls-Royce, Hathaway, Procter & Gamble, Guiness dan Sears : Janganlah membuat consumen bosan membeli produkmu, harus dibuat selalu tertarik membelinya. Kalau kita analogikan dengan membaca disini. Setiap ‘read aloud ( membacakan cerita )’ seperti sebuah iklan yang menyenangkan. Kalau itu hal yang menyenangkan ( bermanfaat ), tentunya harus selalu dibawa oleh konsumen.
- Read Aloud ( membacakan cerita ) adalah iklan yang baik untuk meningkatkan minat membaca.
- Bacakanlah buku yang sesuai dengan usia anak.
- Sediakan waktu yang proporsional
- Parenting is not to be a time saving experience.
Parenting is time consuming, time-investing but not time-caving
- Reading loud ( membacakan cerita ) tidaklah sekedar menambah perbendaharaan kata seorang anak dan belajar membaca. Bonus yang didapat dari read aloud adalah ‘bonding’ antara yang membacakan cerita dengan anak yang dibacakan
- Belajar tata bahasa lebih sebuah pemahaman dibandingkan pemikiran, cara mendapatkannya sama seperti penyakit flu – kita harus terekspose dengan virus ini. Melalui mendengar, mulai terbiasa dengan polanya – apa yang diucapkan dan apa yang dituliskan.
- Ketika membacakan cerita yang kita perdengarkan adalah bahasa buku dengan tata bahasa yang baik, dengan bahasa buku. Anak jadi belajar tata bahasa secara tidak langsung.
- Dengan membaca dapat meningkatkan kemampuan menulis dan mengeja Hanya melalui membaca, membaca, membaca.
- Peningkatkan perbendaharaan kata dan mengeja kata tidaklah dengan melihat dari kamus. Kamus untuk mendapatkan / mempelajari arti dan mengeja. Sama dengan ketika guru belajar menghafal nama murid dan orang tua belajar menghafal nama tetangga, dengan berjumpa dengan mereka berkali kali dan menghubungkan antara nama dan wajah.
- Hampir semua belajar mengeja melalui visual memory bukan berdasarkan aturan. Ada sebuah research yang menunjukkan bahwa orang yang dengan mudah mengingat graphic atau tanda-tanda geometric juga baik di mengeja.
- Untuk menulis, ada sebuah pendekatan tradisional yang disebut “Vince Lombardi school of writing”. Diperlukan latihan menulis, menulis, menulis, menulis sampai kertasnya habis dan di kurikulumnya tidak ada lagi. Kamu akan mendapatkan tulisan yang lebih baik . Lakukan berulang kali. Tetapi, masalahnya dengan pendekatakan ini, tidak ada research yang mendukung. siswa yang suka menulis adalah penulis yang baik
- Tak ada kata terlalu tua untuk memulai read aloud – tetapi tidak mudah untuk mengajarkan anak yang sudah lebih tua dibandingkan dengan anak diusia 2 atau 6 tahun. Diperlukan effort yang lebih.
- Untuk anak usia 12 – 14, coba dengan pembahasan bagian kecil sebuah buku, 1 atau 2 halaman – ketika melihat dia kehilangan motivasi dan hubungan dengan membaca.
- Contoh yang diberikan Jim Trelease :
Ketika Jamie dan Elisabeth remaja, saya selalu membacakan ringkasan dari apapun topic yang saya baca, baik fiksi atau non fiksi. Pada suatu sore, saya sedang membaca ‘Ferrol Sams’s Run with the Horseman’ karangan Georgia, seorang ahli fisika. Ketika sampai pada bagian dimana seorang anak laki menemui hal-hal lucu. Saya selalu berpikir bahwa, Oh, Jamie akan menyukai.
- Lalu pada suatu pagi, saya menemui Jamie, Hey Jamie – dengar ini dia menjawab maaf pak, saya tergesa-gesa, saya haryus ketemu seseorang” saya tahu , tapi ini hanya memerlukan 1 menit – saya janji. Melihat dari matanya, dia menolak dan saya mulai membacakan cerita. Dan saya berharap dia menyukainya. Sesudah beberapa waktu, dia datang dengan membawa temannya kepada saya, minta dibacakan.
- Banyak kasus demikian dialami orang tua atau guru, Saya menulis anthology of fifty read~aloud selections untuk preteens and teen yang berjudul “ Read All aloud about it
- Lalu ada usaha menaikan menaikkan standard suatu bangsa, dimana standard yang dipakai hanyalah IQ. Bahkan kurikulum sekolah dibuat untuk menaikkan standard berdasarkan IQ. Tidak ada yang menyentuh HQ ( heart quotient )
- Clifton Fadiman suatu hari pernah berkata, “ Kita tak pernah kekurangan orang pintar. kiita punya jumlah yang cukup banyak. Yang benar-benar kekurangan adalah orang yang ’lebih baik”. Dan kita menjadikan orang-orang yang lebih baik melalui pendidik otak dan hati seorang anak. Pendapat Daniel Goleman mengenai Emotional Quotient mungkin merupakan argumen untuk mensuport hal ini.
- Deretan keberhasilan seseorang, selalu dikaitkan dengan tingginya IQ, kelulusan pendidikan dari universitas atau pendidikan tinggi lainnya
HealthSouth to Settle Fraud Charges for $100 Million, Bristol-Myers Pays $300 Million in Fraud Penalties
etc
- Deretan kasus/ skandal diatas terjadi, bukan disebabkan oleh kemampuan aljabar, tidak juga pelajaran ketika dibangku kedokteran. Orang-orang dibalik skandal ini adalah orang-orang yang berbakat, orang yang unggul dikelasnya. Mengabaikan emosi siswa dan pendidikan social ( sebagai standard kelulusan ) yang menyebabkan hal tersebut terjadi.
- Bagaiamana kita mengedukasi hati seorang manusia ? Benar-benar hanya ada 2 cara :
pengalaman hidup dan cerita mengenai pengalaman hidup, yang disebut literasi.
- Semua pengkotbah dan guru yang hebat menggunakan cerita untuk menyambaikan pesan – seperti Aesop, Socrates, Confucius, Moses dan Yesus.
- Banyak contoh-contoh cerita . Semua dari kekuatan cerita yang mampu mendidik kearah yang lebih tinggi maupun sebaliknya.
Chapter 3 - Stages of Read-Aloud
- Hingga usia 4 bulan buku apa pun bisa dibacakan ke anak, selama orangtuanya yang membacakan. Anak akan terbiasa mendengar ritme suara orangtuanya yang sedang membaca dan mengasosiasikannya dengan saat-saat menenangkan.
- Riset menegaskan bahwa sejak usia 8 bln memori jangka panjang anak sdh mulai menyimpan pola bunyi dan kata dalam otaknya. Maka, semakin sering seorang anak mendengar pengucapan suatu bahasa, makin besar kesempatan baginya untuk memiliki keahlian bahasa yang baik.
- Perlu ditegaskan, segala aktifitas tersebut di atas, tidak ditujukan untuk “menciptakan” bayi super, tapi lebih sebagai usaha untuk membangun hubungan antara orangtua dan anak serta mengkonstruksi “jembatan” hubungan antara anak dan buku. Kelak, bila anak telah siap, sebagai pembaca, ia akan menyebrangi “jembatan” itu.
Buku apa yang baik untuk bayi?
- Buku yang menstimulasi penglihatan dan pendengaran; bergambar cerah aneka warna, cerita dengan kata berima, pengulangan kata, atau bunyi-bunyi lucu adalah pilihan terbaik di tahun pertama usia anak.Kemampuan anak memilah kata berima akan sangat membantu kemampuan bahasanya kelak
- Pertahankan pula kontak fisik selama aktifitas read-aloud seperti menyentuh, menepuk, atau memeluk, dan berbicara dengan anak, untuk meyakinkan anak bahwa dia-lah yang menjadi pusat perhatian bukan buku yang tengah dibacakan
Apakah perilaku normal bayi atau batita selama dibacakan buku?
- Di usia 4 bulan, bayi memiliki keterbatasan gerak hingga mudah bagi orangtua untuk membacakan buku. Namun pastikan lengan kita memeluknya sedemikian rupa hingga anak merasa terlindungi dan nyaman tapi tetap bisa leluasa melihat buku yang dibaca.
- Sejak usia 6 bln anak biasanya lebih tertarik untuk merebut dan memasukkan buku ke mulut, maka ada baiknya menyediakan mainan atau benda lain untuk digenggam.
- di usia 8 bln biarkan anak turut membantu membuka lembaran buku, tapi jangan biarkan ia memegang buku seutuhnya.
- di usia 12 bln, keinginan anak untuk terlibat dalam kegiatan membaca telah berkembang, ia akan dengan senang hati menunjuk obyek yang diminta, atau meniru suara yang kita buat
- di usia 15 bulan anak biasanya tidak bisa diam, karena kemampuan berjalannya sedang berkembang.Maka, pilihah waktu membaca yang pas agar tidak membuatnya kesal.
Rentang perhatian bayi tak lebih dari 3 menit, dan tidak bertambah dalam waktu singkat,Read-aloud dengan anak usia dini hendaknya tidak bersifat pasif. Berdialoglah dengan anak tentang apa yang dibaca. Sesuai usia anak dengan teks yang dibaca, bila perlu ubah kalimatnya untuk memetik kepahaman dari anak. Lontarkan pertanyaan sederhana yang bisa ditanggapi oleh anak. Bila diibaratkan permainan seperti bermain ping-pong bukan bermain dart.
Apa yang bisa dibacakan setelah “mother goose”
- Picture book/cergam dapat menjadi sarana yang baik bagi orangtua “untuk memperkenalkan dunia”, lebih baik lagi bila buku itu disusun sendiri oleh para orangtua (semacam scrabbook).
- Anak kerap kali meminta dibacakan buku yang sama berulang-ulang. Keinginan tersebut wajar karena mereka tengah belajar sesuatu. Bsgi mereka, tak mudah mencerna bahasa yang rumit pengucapannya dalam sekali dengar. Hingga usia 2 tahun, membacakan beberapa buku berulang kali, lebih baik dari membaca banyak buku tapi hanya sesekali dibacakan.
- Seringkali orangtua juga dibuat kesal dengan perilaku anak yang bertanya….terus ketika dibacakan buku. Padahal, bertanya juga merupakan cara anak belajar.
- Semakin menarik sebuah buku, semakin besar perhatian anak dan semakin baik hasil yang dicapai.
Apakah video memberi efek yang sama baik seperti buku?
Gambar di film terbentuk dari ribuan frame yang membuatnya terlihat hidup/bergerak, sementara ilustrasi di buku bersifat statis. Pada balita, literasi visual lebih dulu hadir sebelum literasi cetak. Anak, biasanya akan bertanya tentang gambar yang ia lihat bukan teks yang dibacakan orangtuanya. Maka, gambar yang statis, seperti ilustrasi buku akan lebih bermanfaat. Contoh; kala anak melihat gambar seekor semut. Di video, semut akan bergerak cepat hingga anak tidak bisa melihat detail tubuhnya, tapi melalui ilustrasi buku, anak akan belajar lebih banyak
Tentang dongeng…
- Terlepas dari isi cerita yang kadang terlihat “menyeramkan” seperti duel dengan naga atau nenek sihir yang jahat, dongeng (ternyata…!) mengajarkan banyak hal pada anak. Hal yang terkadang tidak sanggup disampaikan orangtua; bahwa ada sesuatu yang jahat dalam kehidupan yang bisa mencelakakan anak manusia. Banyak “naga” dan “nenek sihir jahat” diluar rumah kita; kasus penculikan dan penganiayaan anak selalu ada dari masa ke masa. Dongeng menunjukkan bahwa dengan menggenggam keberanian dan kegigihan maka kita bisa mengatasi segala rintangan dalam hidup (Bruno Bettelheim)
- Kadang orangtua berharap anak terus ada dalam dunia kecilnya (a world that is forever pink- Natalie Babbitt) dengan memberi buku tanpa konflik, problem atau dramatisasi. Padahal buku demikian tidak akan menarik buat seorang anak karena mereka tahu itu tidak wajar….
- Untuk gadis kecil kita, carilah buku dengan tokoh utama pahlawan perempuan (bukan Barbie…) yang menginspirasi
Adakah transisi alami cerita bergambar ke novel?
- Read-aloud merupakan aktifitas efektif untuk mengembangkan rentang perhatian seorang anak. “ketahanan” (kemampuan) seorang pembaca tak terbentuk semalam, tapi dimulai perlahan dan terbangun secara bertahap.
- Bacakan jenis buku secara bertahap. Jumlah halaman buku bisa jadi tolok ukur. Mulai dengan cergam pendek, lalu cergam dengan teks dan cerita yang lebih panjang (bisa dibaca dalam beberapa hari), kemudian novel pendek (sudah ada pembagian bab tapi tak terlalu tebal bukunya) hingga akhirnya membacakan novel (tebal buku diatas seratus halaman).
- Di usia berapa mulai dibacakan chapter book dan berhenti dibacakan cergam?
Bagi anak yang sudah terbiasa dibacakan cerita sejak kecil, mendengarkan chapter book (buku dengan pembagian cerita yang ditandai dengan pergantian bab) di usia balita tidak sulit. Bahkan, kegiatan itu akan jadi selingan menyenangkan dari pembacaan cergam. Di sisi lain, tak ada batasan usia untuk dibacakan cergam, terlebih cergam yang memiliki cerita menarik. Remaja pun masih akan menyukai cerita bergambar.
- Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan novel;
Buku dengan teks panjang tidak semua “enak” dibacakan. Ada buku yang lebih nyaman dibaca untuk diri sendiri. Pertimbangkan tema yang diambil, kemampuan emosional anak untuk menerima cerita dan cara penceritaan yang digunakan dalam buku, terutama kala melakukan read-aloud pada pra remaja. Pre-read (pembacaan awal oleh pembaca, dalam hal ini guru atau orangtua sebelum melakukan read-aloud) menjadi tahap yang tidak bisa ditinggalkan.
Unsur yang membuat read aloud menarik:
- bagi bayi dan anak usia dini, idealnya dibacakan buku dengan kombinasi antara bunyi yang ritmis, kata berima, pengulangan kata, atau bunyi-bunyi lucu dan banyak ilustrasi cerah.
- Untuk anak usia 2,5 – 3 thn plot cerita sederhana sudah mulai bisa diterima, misalnya: kisah hilangnya seekor kucing
- Sejak usia 3 thn, plot/alur cerita mulai memegang peranan penting untuk menarik perhatian anak; apa yang akan terjadi berikutnya? bagaimana akhir cerita?
- Membacakan buku untuk anak usia 8-9 thn memiliki tantangan tersendiri. Di usia ini, alur cerita buku dalam kategori remaja biasanya memiliki tema yang lebih rumit seperti perceraian, incest, penganiayaan anak dan kekerasan. Pilihan buku sebaiknya memperhatikan perkembangan emosional anak. Apa yang bisa didengar oleh anak delapan tahun berbeda dengan anak usia sembilan tahun. Ada buku yang “enak” dibacakan di depan kelas, ada yang lebih baik dibacakan secara perseorangan atau bahkan dibaca dalam hati (silent reading) oleh seorang anak.
- Buku non fiksi juga bisa digunakan dalam read-aloud asalkan memiliki alur cerita menarik.
- Pendengar (anak) tidak harus turut membaca teks buku kala dibacakan oleh guru atau orangtuanya. Namun mendengar sambil membaca teks akan sangat membantu anak yang mengalami kesulitan membaca.
- Tak harus selesai membacakan buku dengan teks yang panjang seperti novel bila pendengar terlihat bosan. Persingkat deskripsi panjang dalam novel kala melakukan read-aloud.
Apa yang menjadi tujuan dalam membacakan buku pada remaja?
- Bagi remaja, read-aloud lebih bersifat motivatif. Membangun hubungan positif antara anak dan pengalaman membaca. Seperti menanam benih yang akan dipetik anak di masa yang akan datang.
- Dalam beberapa kasus bahkan read-aloud bisa memotifasi murid untuk selalu hadir tepat waktu di kelas.
- Saat sarapan pagi atau makan malam atau bahkan saat remaja kita tengah melakukan pekerjaan rutin rumah tangga (seperti mencuci piring), bisa menjadi momen bagi orangtua untuk membacakan sesuatu. Tak perlu buku, artikel koran/majalah bahkan obituary tokoh terkenal bisa jadi bacaan menarik.